#content-footer{ width:100%; clear:both }

Jumat, 10 Februari 2012

Membangun Manusia yang Berbudi Luhur di Lingkungan Masyarakat Khususnya Pelajar dalam Perspektif Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang Masalah
            Dewasa ini banyak dijumpai dslam kehidupan sehari-harí baik melalui pengamatan langsung maupun melalui media massa tentang kenakalan remaja. Salah salu faklor yang dominan dalam hal ini adalah kurangnya pendidikan moral yang  diterima anak dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan kelornpok kecil dalam  masyarakal yang pertama kali dikenal oleh anak dan merupakan lempat pendidikan yang  perlama. Posisi orang tua dalam keluarga menduduki tcmpat yang sangat  penting karena orang tua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang sangat besar terhadap pendidikan anaknya terutama dalam menanamkan pendidikan moral yang luhur.
            Remaja sebagai generasi penerus bangsa harus mempunyai rnoraiìlas yang luhur, karena merekalah yang akan meneruskan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh  itu remaja harus mernpunyai bekal moral yang kuat agar bisa menjadi manusia yang berkualitas dan bermoral luhur. Dengan landasan moral yang kuat maka tercipta kualitas manusia Indonesia seutuhnya dan akan menjadi dasar yang kuat bagi pembangunan nasional. Berhasilnya pembangunan nasional akan mewujudkan rnasyarakat adil dan makmur yang menjadi cita -cita nasional bangsa Indonesia.
            Berbagai masalah yang dihadapi di negara kita salah satunya diakibatkan oleh adanya krisis karakter  para pejabat negara. Misalnya saja kasus korupsi. Tidak hanya masalah pejabat negara dengan kasus korupsinya saja, namun juga masalah generasi muda bangsa yang nampaknya sudah jauh dari perilaku baik. Sebut saja tauran antar pelajar, sex pra nikah atau bahkan hal terkecil seperti menyontek, berlaku tidak sopan dengan teman, orang tua maupun guru dan berbicara tidak baik.
            Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat. Masyarakat adalah unit yang membentuk negara. Oleh karena itu, keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan setiap karakter individu. Karakter merupakan kunci bagi sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga, pendidikan karakter sejak usia dini merupakan hal yang penting. Namun, keluarga seringkali melewatkan begitu saja fase kritis dalam pembentukan sikap moral anak. Kadangkala orang tua tidak memikirkan bagaimana perkembangan moral anaknya sehingga tidak terlalu fokus dalam membentuk karakter anak agar menjadi seorang pribadi yang berkualitas di masa yang akan datang.
            Dengan tuntutan globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini, komunikasi antar anggota keluarga terkadang sangat sulit dilakukan. Dengan kesibukan orang tua yang bekerja, seringkali keluarga hanyalah tempat untuk menginap saja. Tidak ada pendidikan dan sosialisasi yang diberikan orang tua kepada anaknya. Sekarang,  juga banyak kasus perceraian yang dapat berdampak buruk terhadap anak. Anak broken home rentan sekali terbawa arus negatif pergaulan, apalagi anak tersebut adalah anak remaja.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana penerapan budi luhur dalam membangun masyarakat yang berbudi luhur khususnya di kalangan pelajar dalam perpsektif keluarga? Permasalahan ini diuraikan ke dalam 3 (Tiga) pertanyaan, yaitu:
  1. Bagaimana deskripsi pendidikan berbudi luhur di kalangan pelajar?
  2. Bagaimana peran keluarga dalam membangun manusia yang berbudi luhur?
  3. Bagaimana peran masyarakat dan pemerintah dalam membangun masyarakat yang berbudi luhur khususnya di kalangan pelajar?

1.3.Tujuan
            Adapun tujuan dari makalah ini adalah dapat mendeskripsikan pentingnya berbudi luhur dalam membangun masyarakat khususnya di kalangan pelajar dalam perpsektif keluarga.

1.4.Manfaat
Adapun manfaat tulisan ini secara akademis yaitu dapat menambah wawasan keilmuan dalam kaitannya dengan pentingnya berbudi luhur dalam membangun masyarakat khususnya di kalangan pelajar dalam perpsektif keluarga. Secara praktis, dapat memberikan masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal membuat berbagai kebijakan tentang berbudi luhur di kalangan pelajar.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pendidikan Berbudi Luhur di Kalangan Pelajar
Penanaman nilai-nilai berbudi luhur di sekolah, untuk saat ini memang sudah mengalami kemunduran. Data empiris membuktikan bahwa para guru pun sudah merasa enggan menegur anak didik yang berlaku tidak sopan di sekolah. Anak didik sering kali berperilaku tidak sopan terhadap guru, melecehkan sesama teman, bahkan ada sekolah yang tidak berani mengeluarkan anak didik yang sudah jelas-jelas menggunakan narkoba.
Belum lagi posisi materi yang sejajar dengan kurikulum mulok sampai saat ini memang tidak berdiri sendiri. Materi tersebut diintegrasikan ke dalam dua mata pelajaran, yaitu PPKn dan agama. Kalaupun pada akhirnya diintegrasikan pula ke dalam enam mata pelajaran lainnya, yaitu matematika, IPA, IPS, Kesenian, Bahasa Indonesia, dan Olahraga, rasanya masih kurang mengingat tingkat budi pekerti yang telah amat mahal dan langka di masa kini.
Budi luhur adalah segala perilaku/perbuatan yang sesuai dengan peraturan agama dan menetapi peraturan pemerintah yang sah, mulai dari pemerintah tingkat pusat hingga tingkat RT serta norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat setempat (Kholil)[1]. Sekarang ini banyak kita jumpai dalam kehidupan seharí­hari baík melalui pengamalan langsung atau melaluí medía massa tentang kenakalan remaja yang semakin meningkat.
            Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Soewandí (1993: 2) disimpulkan bahwa pada tahun 1975 terdapal 11 macam kenakalan remaja, tempo pada tahun 1993 tercapai 14 macam kenakalan remaja yang amara lain meliputi pernbunuhan (12%), perampokan (4%), penganiayaan (2%), pencurian (35%), penipuan (2%), penyalahgunaan narkotika (10%), membawa senjata tajam (2%), penyalahgunaan alkohol (5%), percabulan (2%), dan pelanggaran lalu lintas (4%). Kenakalan anak remaja tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi tidak dapat diingkari bahwa salah satu faktor yang dominan  minimnya pendidikan moral yang diterima anak dalam lingkungan keluarganya.



2.2. Peran Keluarga Dalam Membangun Manusia yang Berbudi Luhur
       Keluarga rnerupakan kelompok kecil yang pertama dikenal oleh anak di mana ia hidup, tumbuh dan berkembang mengenal berbagaí macam kebutuhan dasar, norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yaitu melalui orang tua.
       Vembriano (1982: 36) mengemukakan bahwa ìntisari pengertian dari keluarga adalah:
a. Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang terdîri dan“ ayah„  dan anak.
b. Hubungan Sosial di antara keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
c. Hubungan amara anggota keluarga dijiwai suasana afeksi dan rasa ranggung jawab.
d. Fungsi keluarga adalah memelihara, rnerawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasi agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Dengan demikían jelas bahwa keluarga merupakan institusi di mana anak-anak mendapatkan pendidikan termasuk pendidikan moral darí orang tuanya.
            Ketetapan MPR Rl No. ll/MPR/1993 tentang Garis-garís Besar Haluan Negara menyebutkan bahwa pendidìkan di lingkungan keluarga merupakan tempal pendidikan pertama dan pendídikan prasekolah. Selain  juga dijelaskan bahwa pendidìkan di lingkungan keluarga merupakan wahana sosialisasí awal sebelum anak menginjak pendidikan dasar. Sejalan dengan itu Ki Hadjar Dewantara (1962: 71) juga mengatakan bahwa keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Demikian pula Imran Manan PH (1989: 61- 62) mengatakan bahwa keluarga baik dalam arti luas merupakan inslitusí vang dipakai untuk memenuhî sernua kebutuhan dasar manusia termasuk menyampaìkan gagasan-gagasan, norma-norma maupun unsur-unsur kebudayaan pokok. Oleh karena itu dalam pendidíkan di lingkungan keluarga perlu dikembangkan adanya Iandasan pembentukan watak dan kepribadian, penanaman dan pengenalan agama tídak ketinggalan tentang nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini peranan orang tua sangat penting.
            Mendidik merupakan pekerjaan yang harus mengulang­ulang dan memerlukan kesabaran. Oleh karena itu kepada Ibulah tugas mendidik itu diberikan. Singgih D. Goenarlo, juga mengatakan bahwa dalam pendidikan. keluarga merupakan sumber utama. karena segala pengelahuan dan kecerdasan manusia pertama kali diperoleh dalam keluarga. Seorang Ibu biasanya banyak berada di rumah maka kegiatan pendidikan terhadap anak dibebankan kepada Ibu. Demikian juga Henry N. Siahaan (1986: 1) mengatakan bahwa seorang Ibu memegang peranan panting dalam mendidik anak di  ììngkungan kcluarga. Seorang  hams menjadì lokoh utama dalam mendidik anak­anaknya, apalagi l-:etika anak masih kecil rnaka Ibulah yang senaiasa menjadi pendidik. Namun demikian seorang Bapak ridak dapat lepas dari Langgung jawab dalam pendidikan anak tersebut karena pada hakekatnya orang tualah yang berlanggung jawab terhadap pendidíkan  kepada anak-anaknya. Orang tua secara kodrati berhak dan berkewajiban serra bertanggung jawab untuk merawal, mengasuh dan mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna dan bermoral luhur. Posisi orang ma dalam rnenanamkan nilai-nílai moral luhur terhadap anaknya sangat peming, karena anak akan mendapat bekal pendidíkan moral yang mama dan penama adalah dari orang tua dalam sebuah keluarga.
            Mcnurul Holleman sebagaimana dikemukakan oleh Hardjim Nompuro (1979: 43), hak-hak dan kewajihan-kewajiban seorang Ibu terpusal di dalam pemeliharaan kepemingan­kepemingan intern di dalam rumah tangga. tcrmasuk mengasuh anak-anak. anak. Oleh karena itu dalam  hubungannya dengan mendidik moral anak, di samping Ibu memberíkan pengertian kepada anak temang  yang menyangkux hubungan atara manusia dengan Tuhannya, amara sesama  dan dengan dirinya sendin', lingkah laku dan tindakan orang tua harus menjadí leladan yang sebaik~baiknya bagi anak-anaknya. Misalnya„ orang tua menyuruh anaknya supaya berdoa dulu sebelum makan, yaílu sebagaí rasa ungkapan syukur pada Tuhan. Dalam hal ini orang ma juga harus melakukan hal yang sama. Orang tua sepeni itu akan menjadi teladan yang baik dan anak akan cenderung menurut pada orang tua. Di dalam keluarga, anak-anak diheri kesempatan untuk rneìihal contoh yang baik dan' orang tua sesuai dengan moral, sehíngga proses pendarahdagingan  zcrscbul berlangsung wajar tanpa dipaksakan.
            Sesuai dengan  moral Pancasila maka orang ma sebagai pendidik di dalam keluarga harus mempunyai sikap (Bahan Penataran Pancasila/P-4, 1994: 65-65) "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wurì handayani". "Ing ngarsa sung tuladha” bcrarti keseluruhan sikap, língkah laku dan perbuatan dari orang tua harus sesuai dengan moral yang berlaku dalam masyarakal, sehingga dapat dijadíkan teladan, panulan bagi anak-anaknya. Orang tua dapat berbuat seperti itu apabila ada wazak berdisiplin dalam sikap, cara berpikir dan bertindak, sena keteladanan yang lidak mudah mengandalkan kekuasaan, tempi bersifal rasional dan demokrasi. "Ing madya mangun karsa" dapat diarlikan bahwa orang tua dalam mendidik anak hams mampu memotivasi dan mcmbangkitkan tekad sena semangar anak­anaknya umuk berkreasi dan mempunyai niar yang knal umuk berbuat. Dengan demikian dapat dikalakan bahwa orang tua dapax menghidupkan benih­benih yang lerdapat dalam masyarakat unluk bisa tumbuh secara mandiri dan benanggung jawab sacara baik. Orang tua juga harus mempunyaí sikat. “Tut wuri handayani”, artinya harus mampu mendorong dan mengedepankan anak­anaknya seraya membekalinya dengan
rasa percaya pada diri sendíri. Dengan demikian orang ma mendorong tumbulmya keprìbadían bangsa yang bermoral Pancasila.
            Dengan adanya síkap orang tua yang seperti di aras diharapkan proses kemajuan masyarakat dapat berjalan dengan aman dan demokratis sehingga pembangunan manusia Indonesia seutuhnya clapat terwujud.
            Alat pendidikan ialah segala sesuatu yang secara langsung membantu terlaksananya lujuan pendidikan. Alai pendidikan dapal mas sekali artinya sehingga perlu dibatasi. Mengenai wujudnya dapat berupa benda­benda yang nyaxa dan tidak pcrlu benda yang harganya mahal. Alat pendidikan tidak lerbalas pada bcnda­henda konkrit, telapi dapal juga berupa nasihal. Conloh tumulan dan  Oleh karena itu yang dimaksud dengan pcndidikzm  72 Cakrawala Pendidíkan No. 2, Tähun X Vl. Juni 19.97  pada umumnya adalah suam tindakan man perbuatan alan situasi axau benda yang dengan sengaja diadakzm untuk mencapai sualu lujuan pendidikan (Sularí Imam Bernadib, Tl: 96). Misalnya, seorang anak diperimahkan umuk berdoa sebelum makan, maka yang dikejar dengan perintah tersebm adalah membiasakan si anak untuk berdoa sebelum makan sehingga rasa syukur kepada Tuhannya selalu ada pada diri anak tersebul. Di dalam hal ini perimah lersebut merupakan alal pendidikan. Dslam rangka pendidikan moral seperti di ams, orang tua yang pertama. kali mempunyai kesempatan untuk menanamkan ke dalam jiwa anak. Sebagaimana dikalakan oleh Zakiah Daradjat (1975: 135) bahwa pendidikan moral kepada anak tidak dapat lepas dan' ajaran agama sebagai sumbemya. Apabila pendidikan agama tidak diberikan kepada anak sejak kecíl maka sukar baginya untuk menerima nanli jika sudah dewasa karena dalam kepríbadíannya sejak kecil tidak terdapat  agama.
            Banyak alat pendidikan yang dapal digunakan oleh orang tua umuk mendidik moral anak­anaknya. Menurut Suharlin Citrobroto (1980: 108) ada 12 macam alat yang dapax digunakan orang lua unluk mendidik moral anak,
yaitu:
01. memberi contoh dan menyuruh mencontoh
02. membiasakan
03. memberi penjelasan
04. memberi dorongan
05. menyuruh dan melarang
06. berdiskusi
07. memberi lugas dan Langgung jawab
08. memberi bimbingan dan penyuluhan
09. mengajak berbual
10. memberi kesempatan mencoba
11. mencíplakan situasi yang baik
12. mengadakan pengawasan dan pengecekan.

2.3. Peran Masyarakat dan Pemerintah Dalam Membangun Masyarakat yang Berbudi Luhur Khususnya di Kalangan Pelajar

            Upaya mengatasi kemerosotan moral dan budi pekerti anak dapat dilakukan atas dasar adanya kekuatan yang mendukung, yaitu: di samping telah dituangkan dalam Sistem Pendidikan Nasioanal UU No.2/89. Bab II Pasal 4 yaitu untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, keseharan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Juga terdapat pada perundang-undangan yang lain yaitu:
  • TAP MPR No.X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi pembangunan pada Bab IV huruf D
  • o Butir 1 F: Peningkatan akhlak mulia dan budi pekerti luhur dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti di sekolah
  • o Butir 2 H: Meningkatkan pembangunan akhlak mulia dan moral luhur masyarakat melalui pendidikan agama untuk mencegah/menangkal tumbuhnya akhlak tidak terpuji.
    • TAP MPR No.IV/MPR/1999, tentang GBHN Bab IV Huruf D mengenai agama butir 1:
  1. Menetapkan fungsi, peran, dan kedudukan agama sebagai landasan moral, spiritual dan etika dalam penyelenggaraan negara. Perundang-undangan tidak bertentangan dengan moral agama.
  2. Meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga mampu berfungsi secara optimal terutama dalam meningkatkan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan negara.
  3. UU No.2/1989 Penjelasan Pasal 39 ayat (2): menyatakan bahwa pendidikan pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Komitmen masyarakat dalam berbagai lapisan terhadap etika bermasyarakat berbangsa, dan bernegara, ditengarai budi pekerti sebagai salah satu dimensi substansi pendidikan nasional yang perlu diintegrasikan ke mata pelajaran yang relevan.

            Perhatian pemerintah dapat dikatakan cukup serius, terutama bagi pembentukan manusia yang utuh, yaitu manusia yang agamis dan mandiri sebagaimana termaktub dalam Tap MPR/1999 dan didukung oleh peraturan dan ketetapan yang lainnya. Namun, pelaksanaan tidak semudah perencanaannya. Kondisi ekonomi di Indonesia di Indonesia yang sedang terpuruk saat ini sangat berpengaruh dalam menanggulangi kemerosotan nilai-nilai moral dan budi pekerti bangsa Indonesia, khususnya anak
 
BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
  1. Peran aktif orang tua atau keluarga sangat dituntut dalam upaya menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak.
  2. Sekolah telah mencoba memasukkan materi moral dan budi pekerti ini secara terpadu (integrated) ke dalam setiap mata pelajaran. Namun, tentu saja hal ini masih belum efektif dan belum maksimal, mengingat tidak semua guru mampu mengaplikasikannya.
  3. Peran masyarakat masih sangat kurang bahkan tidak ada usaha sama sekali untuk turut menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak, terutama dalam bentuk control. Namun, upaya penanaman agama sejak usia dini telah disiapkan oleh masing-masing keluarga.
  4. Pemerintah belum maksimal menangani dan menanggulangi kemerosotan moral dan budi luhur pekerti anak. Hal ini diakibatkan oleh kondisi atau ekonomi negara saat ini.
3.2.       Saran
  1. Pemerintah diharapkan lebih serius menangani kemerosotan moral dan budi pekerti anak, tidak hanya sebatas menetapkan kebijakan. Hal ini dapat dilakukan dengan (a) mengalokasikan anggaran pelatihan bagi para guru dalam melakukan integrasi materi moral dan budi pekerti ke dalam setiap mata pelajaran, (b) memasukan kembali materi moral dan budi pekerti menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri.
  2. Bagi orang tua yang berkecukupan diharapkan tidak hanya mengejar materi dan karier, tetapi diharapkan, lebih memberikan perhatian kepada anak-anak mereka, yaitu dengan cara memberikan penanaman nilai-nilai agama sejak dini. Sementara itu, bagi orang tua yang kurang mampu diharapkan tidak terlalu membebani anak dengan tuntutan bekerja, sementara mengabaikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan moral dan budi pekerti.
  3. Kepada organisasi keagamaan diharapkan turut peduli dengan upaya penanggulangan kemerosotan moral dan budi pekerti anak.
  4. Kepada pelajar, diharapkan kepada masing-masing individu dapat mengikuti program yang dibuat dari sekolah yaitu pendidikan budi pekerti, mengikuti norma atau aturan yang berlaku di lingkungan ssekitar. Terlebih yang lebih penting adalah kesadaran dari setiap masing-masing individu untuk dapat mencerminkan komunikasi serta tingkah laku yang baik.

DAFTAR PUSTAKA









[1] http://ldiiokutimur.wordpress.com/2010/11/30/praktek-budi-luhur-di-masyarakat/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apakah Artikel ini membantu Anda?

Follow by Email